oleh

Sejarah Dan Keunikan Pura Puncak Mundi Nusa Penida

-Travel-1.142 views

Ada satu pura unik di Nusa Penida Bali yang bernama Pura Puncak Mundi. Keunikan pura ini terletak pada lokasinya yang berada di puncak tertinggi yang ada di Nusa Peninda. Lokasi inilah yang membuat anda tidak hanya menyaksikan keindahan bangunan pura tetapi memperoleh bonus pemandangan indah dari ketinggian.

 

Lokasi

Pura ini terletak di Dusun Rata, Desa Batukandik, Nusa Penida. Lokasinya berada di Puncak Bukit Mundi yang menjadi daratan tertinggi di Nusa Penida. Ketinggian pura ini 521 meter di atas permukaan laut. Anda akan menempuh perjalanan sekitar 45 menit dari Pelabuhan Nusa Penida.

 

 

Akses Jalan

Jalan menuju pura penuh tanjakan dan berliku karena berada di ketinggian 521 dpl. Namun anda tak perlu khawatir karena jalan ke Puncak Mundi sudah beraspal sehingga nyaman untuk dilewati. Meskipun begitu. sebaiknya anda harus mengecek kondisi kendaraan yang akan dinaiki sebelum berangkat karena jalan ketika naik cukup curam. Selain itu, anda harus membawa baju hangat atau jaket karena tempat tersebut sangat dingin.

 

Keunikan Pura

Biasanya umat Hindu yang akan melakukan tirta yatra ke Nusa Penida terlebih dahulu sembahyang di pura ini. Setelah itu, mereka akan menuju ke Pura Dalem Ped. Pura ini terdiri dari tiga pura yaitu Pura Krangkeng, Pura Beji, dan Pura Puncak Mundi.

Bangunan padmasana pura ini berbentuk unik karena memiliki pelipit dan empat tiang berbeda dengan padmasana pada umumnya. Padmasana ini dihiasi stiliran kala dan motif sulur-suluran yang merupakan simbol Siwa Buddha. Selain itu, ada wantilan yang cukup luas di area pura ini.

Pura ini terdiri dari jaba sisi, jaba tengah, dan jeroan (paling dalam). Perbedaan pura ini dengan lainnya yaitu pura jaba tengahnya lebih luas daripada area jeroannya. Selain itu, di pura ini masih terdapat banyak kera yang belum jinak. Jadi, anda harus berhati-hati jika ingin mengunjungi tempat ini.

 

 

Sejarah Pura Puncak Mundi

Sejarah pura ini berawal dari pernikahan Bhatara Guru dan Dewi Uma yang melahirkan seorang putra bernama Bhatara Kumara. Namun, kelahiran Bhatara Kumara menjadi awal perpecahan antara Bhatara dan Dewi Uma. Hal ini dikarenakan Bhatara Kumara lebih senang diasuh ayahnya dan hanya sesekali menghampiri ibunya ketika ingin disusui.

Dewi Uma merasa kesal dan menganiaya Bhatara Kumara saat menyusui. Kedua bola matanya memerah dan taringnya keluar. Bahkan Bhatara Kumara dibanting sehingga kepalanya pecah dan darahnya diminum Dewi Uma. Bhatara Guru marah mengetahui peristiwa tersebut dan mengutuk Dewi Uma agar menjelma ke dunia menjadi manusia. Kemudian Dewi Uma membangun sebuah asrama di puncak Bukit Mundi dan mendapat gelar Bhatari Rohini setelah menyesali perbuatannya.

Singkatnya, Bhatara Guru tidak tahan mengasuh putranya sendirian karena anaknya terus meminta disusui ibunya. Disisi lain Bhatara Guru teringat dengan Dewi Uma. Akhirnya Bhatara Guru memutuskan ikut turun ke dunia pada tahun saka 50 di tempat Dewi Uma berada dengan menjelma sebagai Dukuh Jampungan. Dewi Uma juga menjelma menjadi istri Dukuh Jampungan dan menetap di Puncak Bukit Mundi. Pada tahun saka 90, Dewi Uma melahirkan putra bernama I Merja. Keturunan I Merja inilah yang mendirikan pura ini.

 

 

Acara Pujawali

Pujawali di pura ini dilaksanakan setiap enam bulan sekali yaitu setiap Budha Umanis Prangbakat. Dudonan piodalan akan diawali dengan sangkepan dan matur piuning kepada Anggara Kliwon Wuku Tambir. Kemudian dilanjutkan dengan ngemargiang pencaruan, nedunang sesuunan sepisanan ngaturang pengias kepada Anggara Kliwon Wuku Prangbakat. Selanjutnya Ida Batara katur masucian ke Pura Beji Puncak Mundi lan ngaturang piodalan pada Budha Umanis Wuku Prangbakat. Terakhir ngaturang penganyar pada Wrespati Paing Wuku Prangbakat nyejer hingga Sukra Pon.

 

Komentar

News Feed